Skip to content

Pelayanan Busway Kian Buruk Harus Cepat Dibenahi

June 28, 2012

Sumber: Suara Karya Online, 28 Juni 2012

JAKARTA (Suara Karya): Kualitas pelayanan bus Transjakarta atau busway kian buruk. Tak pelak, ikon transportasi umum Jakarta itu kini banyak dikeluhkan oleh warga penggunanya. Masyarakat sering dibuat kesal karena menunggu terlalu lama kedatangan (headway) busnya, halte-haltenya banyak yang kotor, dan lajur khusus di sejumlah koridor juga sudah banyak yang rusak.Menanggapi berbagai keluhan warga Jakarta tentang menurunnya kualitas pelayanan bus transjakarta, Ketua Komisi B (Bidang Perekonomian) DPRD DKI Selamat Nurdin dan anggota Komisi B Ridho Kamaludin mendesak Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta (pengelola busway) dan Dinas Perhubungan mencari terobosan untuk mengembalikan mutu pelayanan busway seperti pada awal-awal diluncurkan. “Dewan setuju kekurangan armada secara bertahap harus dipenuhi, tetapi pemeliharaan halte-halte harus diperhatikan. Jangan sampai banyak yang kotor, tidak dibersihkan. Apa saja kerja BLU? Hal itu penting agar busway tetap menjadi ikon transportasi umum di Jakarta dapat dipertahankan,” ujar Selamat Nurdin.Lebih lanjut ia menambahkan, Pemprov DKI diminta melakukan audit BLU terkait pendapatan dari penjualan tiket dan biaya operasional, sehingga DPRD akan mengetahui berapa besar subsidi yang mesti diberikan.”Idealnya, BLU pada setiap semester melakukan ekspose kepada masyarakat tentang berapa pendapatan, biaya operasional, head way dan program pemeliharaan sarana prasarana yang menjadi tanggungjawabnya. Hal itu yang tidak pernah dilakukan, sehingga masyarakat bertanya-tanya pengelolaan busway kok tidak semakin membaik,” kata Selamat Nurdin.Ridho Kamaludin menambahkan, kualitas pelayanan buswaysemakin jauh dari standar pelayanan minimal (SPM) yang dijanjikan Pemprov DKI. Bahkan, ticketing yang seharusnya menggunakan sistem elektronik pada April 2012, yang dijanjikan, sampai saat ini tidak terwujud.”Dengan menunda-nunda program e-ticketing atau e-payment, dan mempertahankan penjualan tiket manual, maka BLU menanggung beban sangat besar. Contohnya, setiap hari BLU harus tukar uang receh minimal Rp 1 miliar ke Bank DKI, dan setiap bulan harus mengeluarkan biaya Rp 600 juta per bulan hanya untuk biaya tukar uang recehan Rp 500 karena harga tiketnya Rp 3.500,” ujar Ridho Kamaludin.Untuk menambah kekurangan armada, Selamat Nurdin dan Ridho mendesak BLU juga mencari terobosan, seperti kerja sama dengan pihak ketiga (swasta).

Pada anggaran pendapatan dan belanja daerah perubahan (APBDP) DKI Jakarta tahun 2012, kata Ridho dianggarkan lebih kurang Rp 55 miliar untuk penambahan armada busway. (Yon Parjiyono)

From → Busway

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: