Skip to content

Inilah Era MRT Jakarta

June 18, 2012

Sumber: Media Indonesia – 15 Juni 2012

ADA ungkapan, Jakarta aneh kalau tak ada macet. Anggapan seperti itu harus disingkirkan. Pasalnya, Jakarta justru sangat aneh jika macet total. Japan International Corporation Agency (JICA) memperkirakan Ibu Kota akan macet total pada 2014. Begitu mobil ke luar dari garasi, langsung larut dalam antrean panjang tak berkutik.

Apa mau dikata, pertumbuhan jalan hanya 0,01% per tahun, di pihak lain setiap hari setidaknya 500 kendaraan baru turun ke jalanan Jakarta. Data Departemen Perhubungan menunjukkan jumlah kendaraan di 94% jalan arteri Jakarta sudah di atas kapasitas jalan.

Laju kendaraan pun seperti siput. Pada jam sibuk rata-rata kecepatan laju kendaraan di Jakarta kurang dari 20 kilometer per jam. Kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di  Jakarta berdasarkan hasil penelitian Yayasan Pelangi pada 2005 ditaksir Rp12,8 triliun per tahun yang meliputi nilai waktu, biaya, bahan bakar, dan biaya kesehatan.

Sementara itu, berdasarkan Study on Integrated Transportation Master Plan (Sitramp) oleh JICA/Bappenas menunjukkan bila sampai 2020 tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp65 triliun per tahun.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara berkelanjutan merancang beberapa strategi untuk mengurangi dampak kemacetan. Rancangan itu tertuang dalam sebuah program besar yaitu Pola Transportasi Makro (PTM) sebagaimana Perda No 12/2003 dan Pergub No 103/2007.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merumuskan beberapa strategi untuk menanggulangi kemacetan yaitu pembangunan angkutan umum massal, peningkatan jaringan jalan, dan pembatasan lalu lintas.

“Tujuannya, meningkatkan pelayanan penyediaan jasa transportasi yang aman, tertib, lancar, nyaman, ekonomis, efisien, dan terjangkau oleh masyarakat. Dan, sebagai salah satu bagian dari perwujudan PTM ini adalah pembangunan sistem transportasi mass rapid transit (MRT) Jakarta,” kata Gubernur DKI Fauzi Bowo.

PTM memberikan penekanan pada transportasi berbasis rel baik yang sudah ada (blue line) maupun yang akan dibangun PT MRT Jakarta.

Transportasi berbasis rel seperti MRT bisa dikatakan akan menjadi tulang punggung sistem transportasi karena biayanya lebih murah dibandingkan transportasi lainnya. Angkutan per orang per kilometer dengan kereta api, enam kali lebih murah jika dibandingkan dengan bus dan 20 kali lebih murah daripada menggunakan sepeda motor.

Keuntungan lain dari moda tersebut karena tidak menimbulkan emisi CO2 sebab digerakkan tenaga listrik. Adapun bus mengeluarkan emisi CO2 15 gram per penumpang per km dan kendaraan pribadi mengeluarkan emisi CO2 244 gram per penumpang per km.

“Kecukupan energi listrik untuk operasi kereta api telah dibicarakan sejak dini dengan PLN ketika beroperasi kelak,” kata Presiden Direktur PT MRT Jakarta Tribudi Rahardjo sembari mengatakan proyek MRT bakal menyerap tenaga kerja sampai 48 ribu orang selama lima tahun periode konstruksi.

Tahap pertama, proyek MRT akan dibangun sepanjang 15,7 kilometer dengan rute Lebak Bulus-Bundaran HI. Rinciannya, sepanjang 9,8 kilometer merupakan jalur layang dari Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja dan 5,9 kilometer di bawah tanah mulai dari Senayan hingga Bundaran HI.

Beban infrastruktur

Jakarta memiliki populasi sebesar 8,9 juta pada 2008 (Data Sensus Ekstrapolasi). Pada siang hari, penduduk Jakarta menjadi 10,2 juta orang akibat para komuter dari wilayah Bodetabek.

Angka tersebut mempresentasikan perjalanan manusia sebesar 17,2 juta per hari, yakni sekitar 56% menggunakan angkutan umum dan sisanya 44% memakai kendaraan pribadi.

Di sisi lain, populasi kendaraan pribadi sebesar 94% dan kendaraan umum sekitar 6%. Jadi beban infrastruktur jalan yang tumbuh secara terbatas lebih banyak oleh kendaraan pribadi.

Dengan demikian jelas terjadi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan yang berujung pada kemacetan lalu lintas kronis. Berdasarkan fakta ini, jelas DKI Jakarta sangat membutuhkan angkutan massal yang lebih andal seperti MRT.

Untuk kebutuhan tersebut, telah dibentuk PT MRT Jakarta pada 17 Juni 2008 dengan persetujuan DPRD DKI melalui Peraturan Daerah No 3 Tahun 2008 mengenai Pembentukan BUMD PT MRT Jakarta dan Peraturan Daerah No 4 Tahun 2008 mengenai Penyertaan Modal Daerah di PT MRT Jakarta.

“MRT hanya salah satu alternatif untuk mengurai kemacetan dan diharapkan mampu mengubah wajah kota,” lanjut Fauzi Bowo. MRT mutlak dibutuhkan bukan hanya sekadar mengatasi kemacetan, melainkan lebih dari itu pembangunan MRT akan menjadi pendorong bagi Pemprov DKI untuk merestorasi tata ruang kota.

Agar lebih efektif dalam mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, MRT akan diintegrasikan dengan tata ruang kawasan. Integrasi diwujudkan dengan pembangunan jalan menuju stasiun atau menyediakan angkutan umum lain yang memudahkan warga datang atau meninggalkan stasiun MRT. Pemprov DKI juga akan membangun tempat parkir di stasiun dan trotoar yang memadai untuk mengakses stasiun. Lewat cara itu, warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar jalur MRT dapat merasakan manfaat langsung.

Adapun warga yang tinggal agak jauh dapat meninggalkan kendaraan pribadi dan mengakses MRT dengan angkutan umum pendukung. Pemilik kendaraan pribadi juga dapat memarkir kendaraan di dekat stasiun.

Menurut Fauzi Bowo, jika integrasi MRT dan tata ruang dapat dilakukan, kemacetan di beberapa titik seperti Lebak Bulus dan Dukuh Atas dapat berkurang. “Pemprov DKI menargetkan MRT Jakarta dapat beroperasi pada  akhir 2016,” imbuhnya.

Tribudi Rahardjo menambahkan kendaraan berbasis rel itu akan terintegrasi dengan jaringan yang sudah ada seperti kereta loop line dan angkutan publik lainnya seperti busway serta bus reguler. (*/J-1)

From → MRT

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: