Skip to content

Antisipasi Kecelakaan Kereta: Seluruh KA Dilengkapi Pengaman Otomatis, 2013

March 5, 2012
Sumber: Jurnal Nasional | Senin, 5 Mar 2012
Suci Dian Hayati
Saat ini teknologi yang paling sesuai untuk diterapkan di Indonesia adalah sistem teknologi Automatic Train Protection (ATP).

Suci Dian Hayati

suci_dh@jurnas.com

Jakarta Jurnal Nasional

UNTUK meminimalkan angka kecelakaan Kereta Api (KA), mulai tahun 2013 Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana memasang alat keselamatan otomatis, Automatic Train Protection (ATP) di seluruh KA. Proyek yang memerlukan dana lebih dari Rp1 triliun itu ditargetkan selesai tahun 2015.

“Lebih dari 50 persen kecelakaan KA terjadi karena faktor human error, sebab seluruh KA di Indonesia masih mengandalkan kemampuan masinis. Maka itu, perlu alat yang bisa mencegah masinis maupun operator lengah,” kata Direktur Keselamatan Perkeretaapian, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Hermanto Dwiatmoko dalam diskusi bertema Program Peningkatan Keselamatan Perkeretaapian, di Jakarta, Jumat (2/3).

Penerapan alat keselamatan otomatis pada kereta api bukan hal baru. Bahkan, ilmuwan India berhasil mengembangkan teknologinya dengan menciptakan alat Anti-Collision Device (ACD) berbasis teknologi GPS. Dengan ACD, India dapat mencegah terjadinya kecelakaan antar-KA, atau yang disebut Head to Head Accident. “Teknologi ACD akan mengaktifkan sistem pengereman otomatis ketika dua kereta api berada dalam radius tiga kilometer di jalur yang sama,” kata Hermanto.

Sayangnya, sistem ACD belum bisa diterapkan di Indonesia karena sangat bergantung pada jaringan satelit. “Indonesia belum memiliki sarana satelit pendukung. Jika suatu saat jaringan satelit mati, kami tidak bisa mengantisipasi. Jika harus menyewa jaringan satelit, kita harus bayar. Jadi, tidak efisien,” ujar Hermanto.

Selain ACD, teknologi pengamanan KA juga telah lama dikembangkan di Eropa. Negara seperti Prancis, Jerman, dan Belgia mengadopsi teknologi Menchanical Train Stop (MTS). Namun alat ini hanya bisa diterapkan pada lokomotif dengan kecepatan di bawah 100 kilometer per jam.

Negara Asia lainnya, seperi Jepang, Singapura, Korea, dan Malaysia, telah lama mengaplikasikan sistem pengaman Automatic Train Operation (ATO), terutama di jaringan KA Bandara dan subway. “Sistem ini menggunakan database terintegrasi yang berisi data way side untuk mengontrol akselerasi dan pengereman kereta api di setiap titik-titik tertentu,” ucap Hermanto.

Menurut kajian Dirjen Perkeretaapian, saat ini teknologi yang paling sesuai untuk diterapkan di Indonesia adalah sistem teknologi Automatic Train Protection (ATP). Alat ini tidak bergantung pada arus listrik karena bekerja dengan induksi magnetik. Alat ini bisa bekerja pada jenis kereta apa pun, baik diesel maupun listrik dan dengan kecepatan berapa pun.

“Sayangnya, harganya cukup mahal. Untuk satu unit saja membutuhkan anggaran hingga Rp1 miliar. Padahal kita punya lebih dari 1.500 lokomotif yang beroperasi dan 424 stasiun,” ungkap Hermanto.

ATP bekerja tidak sekadar memberhentikan laju kereta secara otomatis jika masinis melanggar sinyal atau melebihi kecepatan. Tetapi, juga dapat membantu mengatur kecepatan KA jika melebihi kecepatan yang diizinkan.

“Saat terjadi pelanggaran sinyal dan masinis tidak segera menurunkan kecepatan, maka alat akan segera menghentikan laju KA secara otomatis dalam waktu kurang dari empat detik,” ujarnya.

Sistem ATP juga dilengkapi sistem rekam jejak kecepatan dari seluruh kereta. Sehingga, memungkinkan operator mengetahui data kecepatan kereta api yang beroperasi. “Seluruh kecepatan KA yang melintas terekam. Begitu pula kecepatan KA saat menghadapi kondisi darurat. Maka, alat ini juga bisa menjadi bukti dalam upaya menegakkan hukum jika terjadi pelanggaran,” tutur Hermanto.

Uji Coba

Uji coba sistem ATP telah dilakukan di Stasiun Tulangan lintas Sidoarjo, 9 Februari lalu. Dengan lima skenario pengamanan, alat tersebut dinilai layak diterapkan untuk sistem perkeretaapian di Indonesia. Rencana, sebagai pilot project, pemerintah akan segera memasang sistem ATP di tujuh lokomotif yang melintasi jalur Solo-Yogyakarta-Kutoarjo. Yakni, di tiga lokomotif KRDE Prambanan Ekspres, dua unit lokomotif KRDE Madiun Jaya, dan dua unit lokomotif KA Uji Ditjen Perkeretaapian.

“Jika tidak ada kendala, kami harapkan sistem ini bisa segera diterapkan di seluruh jalur perkeretaapian di Indonesia, baik di Jawa, Sumatera maupun jalur baru di Kalimantan. Paling lambat tahun 2015,” kata Hermanto.

Standardisasi Masinis

Selain teknologi tinggi, upaya menurunkan angka kecelakaan KA juga dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya, khususnya masinis dan operator. Total masinis yang beroperasi di Indonesia saat ini mencapai 5.000 orang.

“April nanti, akan kami keluarkan lagi 500 sertifikat baru untuk masinis. Sertifikat ini menerapkan standar baru yang lebih tinggi,” kata Hermanto. Harapannya, dengan standar baru tersebut kualitas masinis dapat lebih baik. Meski, seluruh masinis sudah memiliki sertifikat.

Ditjen Perkeretaapian juga akan menerapkan uji simulator dalam perekrutan masinis mulai tahun ini. Menurut Hermanto, sebagian besar masinis yang bertugas saat ini tidak melalui uji simulator. Padahal, melalui uji simulator bisa dinilai seberapa cakap masinis dalam mengemudikan kereta dan merespons berbagai masalahnya.

Untuk mendukung program tersebut, Ditjen Perkeretaapian harus merogoh dana relatif besar. Untuk dua alat simulator yang kini ada di pusat pelatihan ditjen di Bekasi, diperlukan dana Rp12 miliar. Harga yang sebenarnya bisa ditekan jauh lebih rendah jika dikembangkan sendiri oleh anak-anak bangsa, seperti di SMK maupun universitas. n

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: