Skip to content

Monorel Tanpa Intervensi Asing

February 11, 2012
Proyek Nasional Pertama, Tiket Gunakan Sistem Smart Card
MAKASSAR, FAJAR — Keseriusan Kalla Grup berinvestasi pada proyek pembangunan monorel kawasan Mamminasata ditunjukkan dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU). Dokumen MoU atau nota kesepakatan ditandatangani bersama Pemprov Sulsel, Pemkot Makassar, Pemkab Gowa, dan Pemkab Maros di Gubernuran, Senin, 25 Juli.
Direktur Utama PT Hadji Kalla, Fatimah Kalla dan Direktur Pengembangan Solihin Jusuf Kalla mewakili Kalla Grup. Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, Bupati Maros, Hatta Rahman, dan Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo juga bertanda tangan disaksikan mantan Wakil Presiden, HM Jusuf Kalla.
Kesepakatan antara investor dan pemerintah antara lain kesanggupan penyediaan infrastruktur monorel oleh investor. Pemerintah bertanggung jawab menyediakan lahan serta kendaraan feeder atau pengumpan menuju stasiun atau terminal monorel.
Bila moda transportasi massal modern ini terealisasi, akan menjadi proyek monorel nasional pertama. Mulai dari pendanaan, teknologi, hingga tenaga kerjanya, semua dikerjakan tanpa intervensi asing alias memercayakan kemampuan anak negeri.
Solihin Jusuf Kalla mengungkapkan, investasi monorel yang diperkirakan antara Rp3 triliun sampai Rp4 triliun dana Kalla Grup. Kalaupun menggunakan loan atau pinjaman perbankan, kerja sama hanya dengan bank nasional dengan komposisi 30 persen.
Teknologi monorel sepenuhnya menggunakan rancangan yang dikembangkan PT Bukaka Teknik Utama di Cileungsi. PT Bumi Karsa ditunjuk untuk pembangunan konstruksi tiang dan jalur lintasan monorel.
Kalla Grup memulai studi kelayakan atau feasibility study monorel sejak penandatanganan MoU dengan perencanaan selama enam bulan sampai satu tahun. Bila FS menilai monorel layak di Makassar, pembangunan konstruksi dimulai 2012 dengan target proyek selama tiga tahun.
Mantan Wapres RI, Jusuf Kalla mengakui, angkutan massal ini bukanlah barang baru, tetapi monorel di Makassar awal rencana besar. Proyek ini juga menjadi kebanggaan masyarakat Sulsel dan KTI. Apalagi mengandalkan kemampuan anak negeri seperti yang berhasil dilakukan pada pembangunan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
“Masa teknologi seperti ini masih menggunakan teknologi asing. Makanya harus dibuat dengan teknologi dalam negeri sendiri. Kita harus mengandalkan dan memercayai kemampuan sendiri,” ujar JK di Baruga Sangiaseri.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengemukakan, pesatnya pembangunan di Sulsel utamanya Makassar berimplikasi pada aspek lain. Semakin banyak orang yang masuk ke Makassar, sehingga membutuhkan kendaraan untuk mobilitasnya dan berdampak pada kemacetan.
Kepemilikan kendaraan pribadi tidak hanya dampak dari kemampuan atau daya beli masyarakat yang meningkat, tetapi karena sarana transportasi publik yang nyaman juga belum tersedia. Monorel di Makassar bisa menjadi kebanggaan masyarakat yang dapat ditunjukkan kepada dunia sebagai satu-satunya dan pertama di Indonesia.

Makassar Tahap Pertama

Tahap pertama pembangunan monorel direncanakan di pusat Kota Makassar. Solihin Jusuf Kalla mengungkapkan, tahap pertama pembangunan pada jalur green line dengan panjang 15 kilometer. Jalur monorel menghubungkan Makassar Mall- Ahmad Yani-Pantai Losari-Jalan Jenderal Sudirman-Alauddin-Pettarani-Urip Sumoharjo.
Jalur monorel juga direncanakan dari pusat kota ke bandar udara. Pengembangan monorel akan terus berlanjut dengan jalur ke Kabupaten Maros dan Gowa, sehingga menjadi moda transportasi lintas kawasan Mamminasata.
Kendati lintasan monorel berada di median jalan, namun tidak akan merusak jalur hijau. Tiang lintasan dapat ditinggikan atau berada di antara pepohonan dan gedung. Setiap stasiun juga mampu melayani warga dalam radius dua kilometer, tetapi dengan perbaikan jalur pedesterian.
Monorel menjadi solusi mengatasi kemacetan dengan konstruksi jalur lintasan melayang. Tiang penyangga lintasan berada di median jalan dengan dimensi satu meter persegi. Rangkaian monorel terdiri dari tiga unit gerbong berkapasitas 375 penumpang.
Dua lintasan atau track gerbong bertumpu di atas tiang penyangga. “Durasi waktu antara rangkaian gerbong satu dan lainnya fleksibel, sekitar 3-5 menit sehingga sangat mendukung mobilitas masyarakat yang cepat,” tutur Solihin.
Sistem tiket monorel di Makassar mengadopsi e-ticket di Singapura menggunakan smart card. Investor berharap pemerintah dapat memberikan subsidi tarif, sehingga semua kalangan dapat menikmati transportasi modern yang lebih nyaman. Tarif monorel direncanakan antara Rp7000 sampai Rp10 ribu sekali jalan.
Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin mengaku telah berkonsultasi dengan gubernur terkait subsidi tarif. “Masyarakat sebenarnya sangat diuntungkan dengan hadirnya transportasi lebih cepat dan nyaman. Kehilangan akibat terlalu lama di jalan bisa ditekan,” tuturnya.
Waktu tempuh dari pusat kota ke Daya misalnya, hanya sekira 20-30 menit. Selama ini, waktu tempuh menggunakan petepete bisa mencapai 1,5 jam. Kemacetan di Makassar memang sudah cukup parah, kendati penambahan volume jalan dilakukan akibat volume kendaraan yang juga terus bertambah.
Sarana angkutan yang beroperasi di ruas jalan Makassar sekitar 700 ribu setiap hari. Jumlah ini terus bertambah dibanding 2009 lalu yang tercatat sekitar 514 ribu orang per hari.
Jusuf Kalla menyebut kemacetan di Makassar nyaris mirip di Jakarta. Sekitar 30 persen waktu produktif hanya dihabiskan duduk di kendaraan. Waktu produktivitas hilang dan masyarakat mengalami banyak kerugian akibat kelamaan di angkutan umum.
Ketersediaan angkutan massal di Kota Makassar sudah sangat mendesak. Selama ini, masyarakat banyak memilih menggunakan kendaraan pribadi, karena tidak tersedia angkutan massal yang nyaman dan lebih cepat.
Kondisi ini berimplikasi pada kemacetan yang parah. Penggunaan badan jalan sebagai lokasi parkir kendaraan semakin memperparah kondisi lalu lintas.
Apalagi, sepanjang Jalan Urip Sumoharjo dan Jalan Perintis Kemerdekaan telah berkembang menjadi kawasan bisnis, pendidikan, dan permukiman, sehingga sangat rawan kemacetan. “Investasi dan industri semakin banyak yang masuk karena kota telah ditunjang infrastruktur yang lebih baik,” tutur JK.
Penerapan monorel di Makassar dinilai lebih tepat dibanding moda angkutan massal lainnya seperti busway dan subway. Bahkan, bila dibanding busway, investasi pembangunannya lebih murah.
JK menyebut busway sebagai angkutan massal dengan ongkos atau investasi termahal. Jalur khusus busway memanfaatkan badan jalan selebar lima meter atau hampir 1/3 total lebar jalan. Biaya pembebasan lahan saja bisa mencapai Rp5 triliun. Belum biaya pengadaan unit bus dan perawatannya.
Transportasi modern lain seperti subway dengan jalur lintasan di bawah tanah seperti yang dikembangkan negara maju, lebih rumit lagi diterapkan di Indonesia secara umum. Pembangunan yang tidak terancang dengan baik serta sistem drainase yang buruk menjadi kendala pembangunan subway.
Pengumpan
Pengoperasian monorel di Makassar tidak akan mematikan atau menghilangkan petepete atau alat transportasi lain yang lebih dahulu eksis. Petepete dan lainnya justru menjadi feeder atau pengumpan ke stasiun monorel.
Solihin Jusuf Kalla mengemukakan, keberadaan feeder yang mengangkut penumpang ke stasiun monorel justru sangat dibutuhkan. Penyediaan feeder bahkan masuk dalam bagian MoU yang harus disiapkan pemerintah menunjang monorel.
Kepastian tetap eksisnya petepete juga dikemukakan Ilham Arief Sirajuddin. Jarak tempuh lebih singkat membawa penumpang ke stasiun monorel dengan biaya yang tetap sama. Monorel justru menguntungkan sopir petepete.
Angkutan kota berpenumpang maksimal 10 orang itu mulai kekurangan penumpang sejak warga lebih banyak beralih kendaraan pribadi seperti sepeda motor maupun roda empat. Tidak sedikit pengusaha petepete yang mengeluhkan kekurangan penumpang.
Jumlah petepete yang tercatat beroperasi resmi di Makassar sekitar 4500 unit. Namun, jumlah petepete tidak resmi juga tidak sedikit. Pemkot Makassar mencatat sekitar 8000 unit petepete yang beroperasi resmi dan ilegal. (*)
Sumber: Fajar, 26 Juli 2011

From → Makassar

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: