Skip to content

Warga Bisa Gugat Pengelola Tol

February 8, 2012

JAKARTA– Pengguna jalan tol yang merasa dirugikan akibat kemacetan bisa menggugat pengelola. Alasannya, pengendara sudah membayar saat menggunakan jalan bebas hambatan ini.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, jalan tol merupakan salah satu alternatif bagi pengendara untuk menghindari kemacetan. Karena itu, mereka bersedia membayar untuk menikmati jalan bebas hambatan tersebut. Nah, ketika kondisi lalu lintas jalan tol ini juga terkena macet, pengendara rugi telah membayar.

“Kalau merasa dirugikan akibat macet di jalan tol ini,pengendara dapat melaporkan pengelola atas buruknya pelayanan yang didapatkan,” ungkap Tulus Abadi kemarin. Tulus melanjutkan, konsumen berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari pembayarannya. Dalam UU Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, hak konsumen itu dilindungi. Selain itu,pengendara juga bisa menggugat menggunakan UU Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta UU Nomor 25/2009 tentang Pelayanan Publik.

Dia menegaskan,dalam UU Nomor 22/2009 jelas disebutkan bahwa penyelenggara jalan harus memberikan pelayanan atas fasilitas yang memadai. Pasalnya, jalan ini sangat bergantung terhadap hajat hidup orang banyak.“Konsumen atau pengguna jalan tol ini boleh melaporkan pelayanan jalan tol yang diterimanya.Kondisi jalan tol penuh dengan macet kerap merugikan penggunanya,” tandas Tulus.

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit mengatakan, pembangunan jalan tol bukan sekadar memberikan alternatif bagi pengendara agar terhindar dari kemacetan. Lebih dari itu jalan tol ini selenggarakan untuk jalan antarkota. Sementara jalan tol di dalam kota, kata Danang, bukan semata untuk pengendara yang beraktivitas di dalam kota, melainkan lebih kepada pengendara dari dalam kota Jakarta hendak keluar kota.

Jalan tol dalam kota ini dapat juga dimanfaatkan mencapai tujuan di dalam kota. “Dengan adanya jalan tol ini diharapkan pengemudi tidak lagi mengeluhkan kemacetan di jalan arteri. Mereka dapat menggunakan jalan tol untuk lebih mempercepat jarak tempuh. Sekarang kondisinya jumlah kendaraan di Jakarta sangat banyak.Kemacetan di jalan arteri melimpah ke jalan tol.Kondisi ini tidak dapat dihindarkan lagi,”terangnya.

Guru Besar UGM Yogyakarta ini menyarankan agar pengembangan transportasi massal dimaksimalkan. Menurut dia, dengan penggunaan transportasi massal maka kendaraan pribadi bisa ditekan sehingga kemacetan berkurang.“Pengguna kendaraan pribadi seharusnya beralih kepada angkutan umum. Satu angkutan massal dapat mengangkut puluhan penumpang,”terangnya.

Agar banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal, pemerintah harus menyiapkan angkutan massal yang aman, nyaman, dan waktu tempuh terjamin. Direktur Operasional Jasa Marga Hasanudin mengatakan, pihaknya berupaya untuk mengurai titik kemacetan di ruas jalan tol dalam kota melalui perubahan transaksi pembayaran manual menjadi sistem e-toll card.

“Dari lalu lintas harian ratarata (LHR) tol dalam kota sebanyak 500.000 kendaraan, kami menargetkan transaksi melalui e-toll card sebanyak 30% pada tahun ini atau naik dibandingkan tahun lalu yang hanya 12%,” kata Hasanudin kepada SINDOkemarin. Dia menjelaskan,pada ruas tol dalam kota, pihaknya tidak bisa lagi menambah kapasitas jalan maupun penambahan gerbang tol,karena keterbatasan lahan.

Untuk itu, perseroannya memfokuskan pada pengurangan waktu transaksi pembayaran. “Untuk pembayaran manual membutuhkan waktu 9–12 detik sekali transaksi, sedangkan dengan menggunakan e-toll card hanya membutuhkan waktu lima detik,” jelasnya. Saat ini,kata dia,dalam ruas tol dalam kota, gerbang tol otomatis (GTO) yang bisa menggunakan pembayaran melalui sistem e-toll card berjumlah 12 unit.

Perseroan dalam waktu dekat tidak akan melakukan penambahan kapasitas,karena menurutnya jumlah tersebut telah memenuhi pada ruas tol dalam kota. Upaya lain yang dilakukan Jasa Marga untuk mengurai kemacetan di ruas tol dalam kota, yaitu akan melakukan koordinasi dengan pihak Kementerian Perhubungan agar truk yang melewati ruas tol Cawang–Tanjung Priok hanya bisa digunakan pada waktu luang.

“Nantinya jam operasional untuk kendaraan berat maupun truk akan kita atur,saat ini untuk ruas tol Cawang–Tanjung Priok kapasitasnya masih padat oleh kendaraan berat,” kata dia. Ilham safutra/ heru febrianto

Sumber: Seputar Indonesia, 8 Februari 2012

From → Jalan Tol

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: