Skip to content

Soal Monorail dan Trem, Walikota Surabaya Pakai Jurus Pokok’e

February 2, 2012

Bantuan Bus Ditolak, Dewan Prihatin

LENSAINDONESIA.COM: Meski akan ada bantuan alat transportasi masal berupa bus dari pemerintah pusat, Pemkot Surabaya tetap menolak karena program Monorail dan Trem dianggap sudah final oleh Walikota Surabaya.

Sayangnya hal ini justru dinilai keliru oleh anggota dewan, karena harusnya diterima saja sebagai sarana tambahan dalam mengatasi persoalan lalu lintas.

Pemkot Surabaya mantap memilih Monorel dan Trem sebagai modal transportasi massal. Namun, di DPRD Surabaya masih terjadi perbedaan sikap atas rencana itu. Ketua Komisi D Baktiono kembali menyuarakan bahwa sikap Pemkot menginginkan Monorel dan Trem sebagai solusi mengatasi kemacetan lalu lintas di Surabaya adalah langkah bagus.

Tetapi sikap Pemkot menolak bantuan bus yang akan diberikan oleh pemerintah pusat dinilainya keliru. “Ada yang bisa dimaksimalkan tapi kok ditolak. Mestinya diterima saja sambil rencana Pemkot tetap dijalankan,” katanya.

Menurut Baktiono, sebelumnya pemerintah pusat telah menawarkan bantuan bus untuk Kota Surabaya. Walikota Tri Rismaharani sendiri mengaku menolak bantuan tersebut. Menurutnya, penolakan karena dinilai penggunaan bus akan memakan lajur jalan, layaknya busway di Jakarta.

“Padahal Pemkot bisa memadukan antara Monorel, Trem dan bus ini apakah dipakai busway atau tidak,” tegasnya.

Dalam pandangan politisi ini, sumbangan bus lebih dimaksudkan untuk mengurangi arus kepadatan lalu lintas. “Masyarakat mestinya harus diberi banyak pilihan atas alat transportasi massal di Surabaya,” tambahnya.

Anggota Badan Musyawarah (Banmus) ini menjelaskan, dibutuhkan infrastruktur yang besar untuk pembangunan Monorel dan Trem. Ia mengkritik jika bus diterima pemkot, lembaga eksekutif ini bisa menggunakannya dalam menyiasati kebutuhan alat transportasi massal di Surabaya.

Ia mencontohkan Hongkong. “Di sana ada daerah yang pakai trem dan bus. Ada daerah yang pakai monorel dan bus, tapi ada yang khusus bus saja,” ungkapnya.

Ia mengatakan, ini karena tidak semua kawasan di Surabaya akan mampu dilayani dengan monorel atau trem. Di kawasan-kawasan tertentu, penggunaan bus bisa menjadi solusi. “Apalagi sekarang ini masyarakat bisa dengan mudahnya membeli kendaraan pribadi. Apa iya, semua mau naik monorel atau trem?” tanyanya.

Secara terpisah, Ketua Komisi C Sachiroel Alim Anwar memberikan persetujuan atas monorel dan trem ini. Tetapi persetujuan ini diberikan secara halus. Ia mengatakan, komisinya (bidang pembangunan) siap mendukung rencana itu, asalkan monorel dan trem sesuai dengan program pemerintah pusat. “Rencana pemkot untuk mendukung sarana angkutan massal pasti didukung asal tidak berseberangan dengan program pemerintah pusat,” kata Sachiroel.

Sementara, Walikota Tri Rismaharani menyatakan, keputusan memilih monorel dan trem adalah final. Meski tol tengah kota yang sampai sekarang masih tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Apalagi, RTRW baru yang diajukan pemkot belum dibahas di DPRD.

“Pokoknya (monorel dan trem) ini final untuk keputusan di Surabaya. Soal rencana kajian ulang tol tengah, saya tidak tahu,” kata Walikota.ALI/LI-10

Sumber: lensaindonesia.com, Kamis, 22 September 2011 17:19 WIB

From → Surabaya

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: