Skip to content

Kisah Lucu di Balik Inisiasi Proyek Monorail Makassar

February 2, 2012

MEDIA Officer Jusuf Kalla, Husain Abdullah, mengungkap kisah awal hadirnya rencana monorel di Makassar.
Kisah ini beredar hanya sehari setelah MoU proyek Monorail PT Bukaka Inti dengan 3 kepala daerah Sulsel di rumah jabatan Gubernur Sulsel.
Gagasan ini awalnya adalah inisiatif dan tawaran Jusuf Kalla kepada Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin. Setelah proyek monorail ini disupervisi antara Bukaka dan Pemkot Makassar, belakangan Gubenur Syahrul Yasin Limpo ingin mensinkronkannya dengan program transportasi Maminasata.
Setelah kantor gubernur tahu komitmen dan inisiasi Kalla atas proyek ini,  gubernuran menggelar jumpa pers, sepekan sebelum MoU. Pihak gubenuran mengemukakan rencana membangun proyek monorail di Sulsel, tanpa detail investor dan detail rencana proyek.
Berikut ini, sepenggal cerita sebelum proyek monorail dioputuskan dibangun lebih awal di Makassar.
Kisahnya tegang, lucu, inspiratif dan khas Kalla itu dituturkan dosen Jurusan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas ini di salah satu group BlackBerry Messenger (BBM), Selasa (26/7).
“Subuh  tanggal 3 Juni 2011, saya dgn IAS ketemu di pantai naik sepeda. Lalu mampir rumah pak JK. Ceritalah kita bertiga ttg Makassar. Yg menurut pak JK dari udara tampak macet spt Jakarta,” tulis Uceng Abdullah, nama yang digunakan Husain dalam BBM.
Kalimat itu di-posting Uceng di salah satu group BBM “terpanas” di Makassar, pukul 17.43 wita.
Menurutnya, ketika itu, Kalla pakai pesawat jet pribadinya (Challenger)dari Poso, Sulawesi Tengah. Saat melintas di udara di atas poros Jl Urip dan Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Lalu saat bertemu dengan Ilham menyampaikan bahwa Jl Perintis Kemerdekaan dan Jl Urip Sumoharjo itu sudah mirip jalan ke Halim Perdanakusuma, Jakarta, padatnya.
Kalla lalu berkata, “Aco, ini tidak bisa lagi dibiarkan. Harus ada terobosan.”

Aco, sapaan Ilham, hanya manggut-manggut. Lalu Kalla berkata lagi, “Kau mau saya bangunkan monorel Aco. Ini Makassar sudah macet.”
“Mau, Pak. Memang ada rencana begitu,” jawa Kalla seperti ditulis Uceng dalam BBM itu.

Lalu, lanjut Uceng, Kalla berpaling kepadanya dan berkata, “Kamu jangan ekspose dulu Uceng. Aco jangan bicara dulu. Nanti jadi utang. Kita hitung dulu. Berapa penumpang per hari dan dari mana arus penumpang itu arah tujuannya.”

“Penumpang 500 per hari,” ujar Aco. Tapi menurut Kalla jika bisa dapat penumpang 500 ribu per hari saja dengan tarif Rp 6.000, maka monorail bisa diadakan.
Jadi, lanjut Uceng, kata Kalla, kalau 200 ribu dikali 6.000 rupiah, maka dapat omzet kotor sekian-sekian. Kalau investasinya Rp 2,5 triliun, maka tiga tahun bisa BEP.

Tapi investasi masih bisa ditekan karena Bukaka sepertinya bisa bikin gerbong monorel. “Makanya Pak JK bilang monorel asli buatan anak negeri tidak ada campur tangan asing. Murni dalam negeri. JK berani omong begitu karena sudah bikin prototipenya. Jadi jangan khawatir. Itu Ahmad Kalla jagonya,” jelas Uceng dalam BBM itu.

“Pendek cerita, saya sama Pak Aco tanggal 3 Juni itu hari Jumat usai salat di Masjid Bandara karena sebelumnya Pak JK ke Toraja lalu sebelum jumatan balik Makassar lagi, maka saya dan Pak Aco jemput Pak JK sambil salat berjamaah di masjid bandara,” kata Uceng menambahkan.

Usai salat, lanjut Uceng, mereka semua satu mobil pakai Alphard.
“Saya duduk depan, JK dan Aco di tengah di belakang Achmad Kalla dan Syaiful ahli monorel Bukaka. Dalam perjalanan, JK bertengkar soal tarif petepete dgn Aco. Kata JK, tarif petepete Rp 3.000 sedangkan Aco ngotot Rp 1.500 Daya-Sentral. Kata Aco, saya yang teken SK tarifnya, Pak,” ungkap Uceng.
Tapi dalam perdebatan itu, Kalla tak mau kalah. “Ah kau salah Aco. Kalau tidak percaya, kita cek dulu. Eh Uceng, kau turun tanya sopir petepete berapa tarif Daya-Sentral. Stop ko dulu Nasir,” kata Uceng mengutip perkataan Kalla.
Setelah mobil berhenti, Kalla suruh Uceng turun. “Lalu saya turun stop mobil petepete. Saya dikira mau naik petepete sama sopirnya. Saya tanya sopir; berapa ongkos petepete ke Sentral, sopirnya bilang; Rp 3.000 ribu. Naik mi, pak. Saya jawab ah cuma tanya. Saya tidak mau naik petepete,” kata Uceng.
Lalu Uceng kembali ke mobil dan langsung disergap oleh Kalla. “Berapa, Uceng?”. Uceng ketawa, “Bapak benar,  3000 rupiah.”
Tapi Aco masih ngotot. Lalu Kalla berkata ke Aco. “Jangan bantah saya. Dari tadi pagi saya sudah survei, tanya pembantu saya dan sopir saya yang biasa naik petepete. Kau tidak pernah naik petepete dan tidak pernah tanya tarifnya. Itu sopir sudah kasih naik tarif semua.”
“Itulah kisah monorel. Lalu Pak JK kami temani survei jalur-jaklurnya,” kata Uceng.
Menurutnya, jalur yang disurvei saat itu: Jl Perintis Kemerdekaan, Jl Urip Sumoharjo, Sentral, lalu ke Jl Jenderal Sudirman, Jl Ratulangi, Pa’baeng-baeng, Jl Sultan Alauddin, Jl AP Pettarani, dan balik ke Jl Urip, dan Jl Bawakaraeng.
“Perjalanan kira-kira ada 2,5 jam semua. Dilanjutkan makan siang dan langsung meeting dengan ahli-ahli Bukaka,” ujar Uceng.(as kambie)

Sumber: Tribun Timur – Rabu, 27 Juli 2011 11:50 WITA

From → Makassar

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: