Skip to content

Angkutan Umum Dianaktirikan

November 15, 2011

Kota Bangkok yang mempunyai 17 juta perjalanan setiap harinya menempatkan bus sebagai tulang punggung angkutan publik. Angkutan yang sudah mengambil peranan sejak awal tahun 1970-an ini memegang peranan 35 persen atau enam juta perjalanan setiap harinya.

Namun, walau mengambil peran penting, angkutan bus belum bisa menjadi angkutan yang memberi layanan prima bagi penduduk Bangkok. Akan tetapi, karena masyarakat belum memiliki banyak alternatif, mau tak mau bus tetap dipilih. Apalagi, bus mampu menjangkau tempat-tempat yang jauh yang belum dilayani oleh angkutan umum berbasis rel.

Ketidakmampuan bus menjadi angkutan umum yang baik sudah dimulai sejak bus itu berdiri. Sekitar tahun 1970-an, muncul 26 operator swasta dan operator pemerintah yang mengoperasikan bus tanpa standar layanan. Melihat perkembangan dan kemungkinan timbul potensi yang persaingan yang tidak menguntungkan, Kementerian Transportasi Kerajaan Thailand mengambil alih pengoperasian semua bus dna menempatkan Bangkok Metropolitan Transport Authoriy (BMTA).

Selain itu, BMTA juga mengoperasikan van dan mikrobus yang juga melayani angkutan umum di sekitar Bangkok. Dengan demikian, BMTA menjadi monopoli hak atas operasional bus di Bangkok.

Pada tahun 2003, BMTA mengoperasikan 16.000 kendaraan yang melayani rute tetap di Bangkok. Jumlah ini terlalu besar sehingga menimbulkna defisit bagi BMTA. Sebenarnya sudah banyak yang menyarankan agar BMTA menyerahkan pengelolaan bus kepada Bangkok Metropolitan Administration (BMA) atau Pemerintah Provinsi Bangkok. Namun, BMA tidak terlalu bersemangat karena jika dia mengambil alih pengelolaan bus, dia juga harus mengambil alih utang BMTA yang sangat besar, yakni 1 miliar dollar Amerika Serikat.

Sebagai jalan keluarnya, BMTA pun mengundang sektor swasta untuk ikut kembali berpartisipasi dalam pengelolaan bus dan van. Namun, dengan syarat, tarif tetap dikontrol oleh pemerintah agar terjangkau oleh masyarakat.

Agaknya, setelah dipegang swasta, kondisinya juga tidak makin baik. Karena tarif dikontrol, sementara ongkos operasional berdasarkan harga pasar, pengusaha pun mulai mengurangi tingkat layanannya. Bus-bus yang sudah berusia lebih dari 20 tahun tetap dioperasikan. Padahal, Departemen Transportasi Darat (Land Transport Departement/LTD, bagian dari Kementerian Transportasi) sudah mengumumkan tidak akan mengeluarkan izin baru pengadaan bus dengan ukuran lebih besar. Satu izin buat bus baru harus ditukarkan dengan dua izin dari bus lama. Karena tidak bersedia, akhirnya pengusaha memilih memperbaiki bus-bus lama mereka yang kondisinya sudah tidak bagus lagi. Perbaikan itu pun dilakukan seadanya untuk mengurangi ongkos perawatan mereka. Hingga kini, bus-bus berusia lebih dari 20 tahun masih berkeliaran di Bangkok.

Kondisi serupa ditemui di van dan mikrobus. Hasil penelitian Bank Dunia tahun 2006 menunjukkan, van dan mikrobus yang lahir karena kebutuhan masyarakat berkembang tanpa ada yang bisa mengendalikan. Rute tumbuh karena permintaan pasar. Bahkan, ketika makin banyak perumahan kelas menengah tumbuh di sekitar Bangkok, lahir van dengan layanan kelas premium. Ada AC, video, surat kabar, jumlah penumpang terbatas, dan melalui jalan bebas hambatan.

Kemudian BMTA mengambil alih dan menata ulang semua van dan mikrobus. Apalagi, jumlah sudah sekitar 5.500 unit, baik AC maupun non-AC. Dibentuklah Bangkok Microbus Company (BMC) tahun 1992.

Pada tahun 1996, BMC memiliki 863 armada dengna 35 rute. Namun, tahun 1997, BMC mengumumkan kebangkrutan karena harus membayar royalti kepada BMTA dan membayar leasing armada.

Pada akhir tahun 1998, hanya 200 mikrobus yang tetap beroperasi dengan menjalankan 20 rute. Jumlah ini semakin menyusut karena kemampuan BMC yang tidak kunjung membaik. ARmada pun berkurang menjadi 168 unit dan hanya melayani 11 rute. Semua layanan premiun yang semula ada kini sudah dihapuskan.

Melihat layanan bus di kota Bangkok tidak kunjung membaik, BMA pun akhirnya turun tangan. Dia tidak mencampuri urusan bus dan van yang menjadi tanggung jawab BMTA, tetapi membuat layanan bus baru, yakni Bangkok Rapid Transit (BRT).

BRT ini dipandang layak dijalankan untuk mengimbangi layanan angkutan umum berbasis rel, yakni Bangkok Transport System (BTS atau Skytrain) dan Mass Rapid Transit (MRT) yang sudah berhasil mengangkut 630.000 penumpang setiap harinya.

Sama seperti BRT transjakarta di Jakarta, BRT ini juga memakai jalur terpisah, halte khusus, tetapi dengan tingkat layanan yang lebih baik.

Jalur BRT memiliki panjang 15,9 kilometer, dengan satu jalur dilayani 25 bus. BRT yang baru diresmikan tahun 29 Mei 2010 ini melayani rute Sathorn-Ratcpahreuk. Namun, walau masih seumur jagung, bus ini telah melayani 18.000 penumpang setiap harinya per tanggal 17 Juli 2010.

Saat diresmikan Gubernur Bangkok Sukhumbhand Paribatra, langsung dibagikan 200.000 lembar peta perjalanan BRT, termasuk jalur koneksi dengan moda angkutan umum lainnya. Dengan investasi sebesar 700 juta baht (Rp 210 miliar), mereka menggratiskan penumpang tiga bulan pertama, lalu memasang tarif 10 baht (Rp 3.000) selama empat bulan berikutnya, dan akhirnya menerapkan tarif 12-20 baht (tergantung dari jarak) hingga sekarang.

Kehadiran BRT ini memicu banyak reaksi dari warga Bangkok. Penumpang BRT mengaku puas dan senang menggunakan BRT karena adanya kepastian soal jarak kedatangan bus yang hanya tiga menit. Kepastian itu diumumkan di layar-layar monitor yang ada di halte. Keberadaan bus dimonitor lagnsung dari ruang pengendali BRT yang memang sudah langsung dibangun.

Selain itu, bus sangat nyaman dengan pendingin udara dan kapasitas penumpang yang dibatasi hanya 80 orang. Sistem tiket juga sudah menggunakan tiket elektronik. Sementara halte dilengkapi dengan tangga berjalan dan di Sathorn, halte BRT terkoneksi dengan BTS.

Reaksi negatif muncul dari para pengguna kendaraan pribadi. Karena ada jalur khusus BRT, mereka tidak boleh lagi parkir di tepi jalan. Selain itu, mereka merasa jalurnya menjadi sempit sehingga kemacetan makin parah.

Thirayoot Limanond, pengamat transportasi dari Asian Institute of Technology, Pathumthani, mengatakan, “Tekanan masyarakat yang sangat kuat ini membuat polisi akhirnya membiarkan jalur BRT tidak steril. Artinya, sepeda motor dan mobil dibiarkan masuk ke jalur BRT.”

Dengan kondisi itu, BMA pun akhirnya memutuskan untuk menunda proyek empat jalur baru BRT yang rencananya dibangun tahun 2011 ini dan selesai tahun 2012.

Oravit Hemachudha, Wakil Kepala Direktorat Jenderal Transportasi dan Lalu Lintas BMA, mengatakan, “Ini tantangan kami untuk membangun sistem transportasi yang nyaman, aman, dan diterima oleh masyarakat luas.”

(Giane/Agnes Rita S/M Clara Wresti)

Sumber: Kompas, 24 September 2011

From → Australia, Busway

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: