Skip to content

Jakarta Tambah Tol, Kemacetan Akan Makin Parah pada Tahun 2030

November 14, 2011

JAKARTA, KOMPAS – Penambahan jalan tol di dalam kota Jakarta masih diberi ruang dalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang dan Wilayah 2011-2030. Keberadaan jalan tol dimungkinkan dengan berbagai kondisi, termasuk keberadaan jaringan angkutan umum massal yang sudah beroperasi dan terintegrasi dengan baik.

Dalam Pasal 30 Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) antara lain disebutkan, pengembangan jaringan jalan arteri, kolektor, dan lokal dapat diimplementasikan pada beberapa koridor, seperti Antasari-Blok M, Kampung Melayu-Tanah Abang, Kapten Tendean-Ciledug, dan Pasar Minggu-Manggarai. Pengembangan sistem dan pola jaringan jalan arteri itu dapat dilakukan melalui penerapan konsep jalan tol.

Pengembangan jalan tol tersebut harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti adanya minimal 12 koridor angkutan umum massal, termasuk sistem pengumpan yang terintegrasi dan sudah beroperasi optimal. Syarat lain adalah penerapan pembatasan lalu lintas, strategi manajemen lalu lintas di setiap titik keluar-masuk kendaraan, serta konsep integrasi sistem angkutan umum massal dengan koridor yang berimpitan.

Pada indikasi program utama RTRW Jakarta, sedikitnya ada enam jalan tol yang direncanakan pembangunannya hingga tahun 2030. Jalan itu adalah perampungan jalan lingkar luar Jakarta (JORR), pembangunan jalan tol DKI Jakarta dari Rawa Buaya-Tanah Abang, pembangunan jalan tol Jatiasih-Cikarang, pembangunan jalan tol Kalimalang (Bekasi-Kampung Melayu), jalan tol Depok-Antasari, dan jalan tol Tanjung Priok-Cikarang, Jalan lain yanga akan dibangun adalah jalan dari JORR ke Tanjung Priok dan akses Cengkareng.

Peneliti kebijakan publik dan perkotaan, Andrinof Chaniago, menilai, ada motif terselubung dari pengembangan jalan  dan angkutan umum di Jakarta. “RTRW ini menjadi semacam payung berlindung untuk menambah jalan tol di Jakarta.”

Andrinof mengatakan, lahirnya jalan tol di Jakarta merupakan ekses pembiaran pemerintah atas buruk dan minimnya jalan umum, sedangkan jumlah kendaraan terus bertambah. Kekurangan ini lalu dijadikan peluang bisnis dengan membangun jalan tol.

Bila dikaji lebih dalam, Andrinof berpendapat, keberadaan jalan tol ini bakal memperparah kondisi jalan umum. Selain mengambil ruang jalan, juga akan ada pintu keluar-masuk yang justru memperparah kemacetan di jalan umum. Selain itu, ruang jalan umum juga akan menjadi jalan berkelok-kelok. Persoalan ini sudah terjadi saat ini dengan keberadaan jalan tol yang kerap menimbulkan kemacetan.

Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Darmaningtyas berpendapat, jalan tol tidak dibutuhkan di Jakarta. “Kalau jaringan transportasi umum sudah bagus, tidak perlu ada jalan tol. Jalan tol justru memperparah lalu lintas karena sedikitnya akan ada dua akses jalan masuk-keluar,” katanya.

Penolakan penambahan jalan tol sudah disampaikan saat pembahasan draf RTRW. Namun, usul itu tak digubris hingga jalan tol tetap diakomodasi dalam RTRW Jakarta 2011-2030.

Sumber: Kompas, 8 September 2011

From → Jalan Tol

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: